Luka yang paling dalam
bukanlah mata pisau yang tenggelam
nyeruak ke sulbimu
namun lebih kepada waktu
yang kuhabiskan tanpa hadirmu
Maka aku memanggilmu
Serindu Ibrahim yang menyeru
cacahan burung dari empat penjuru
Semoksa sunyi belantara doa
di malam-malam buta
Seperti tak bosan-bosan lautan
mengirim debur ombak ke tepian
Lalu cinta menerjemahkan rasa
jadi ini kata-kata
//maret 2009
Selasa, 17 Maret 2009
sajak rindu
Diposting oleh Aufanuuha Ihsani di 07.10 0 komentar
Selasa, 03 Maret 2009
mimpi
ada yang menelisik dusta di punggungmu, mengkhianati
membisik ragu pada terang nurani.
hingga buta, hingga dalam jagamu kau
mau tetap bermimpi. begitukah?
luka meredup duka,
lewat tayangan televisi kita
mencari pasti darimana kata-kata sampai ke akar berita.
itulah, maka topeng adalah wajahmu
yang kupuji lewat puisi dan lagu-lagu.
atau kesementaraan segala membuatmu merasa
fana adalah abadi yang muncak dalam sekali klimaks.
pernah, sekali waktu, dulu
kita melompati angan-angan dan bicara masa depan.
bagaimana kau menjadi seseorang dan moksa pada ideologi.
namun kau, pun aku, mati dibunuh hari-hari
: orang-orang berjalan pada sumbu x dan y
kemudian keluarga dan kerja dan slip gaji adalah kehidupan
sementara seniman-seniman mengkurva, menyendiri.
jadi baiknya kita mesti bermimpi
sekali lagi, mengekalkan khayalan
ketimbang menyaksi anjing-anjing mati di pinggir jalan.
kita mesti bermimpi, meski
ada saatnya malam ditikam pagi berkali-kali.
//februari 2009
Diposting oleh Aufanuuha Ihsani di 08.28 0 komentar
aku ingin berhenti nulis puisi
makanya aku ingin berhenti nulis puisi
sebab serupa karang, yang tak nyerap air laut
aku ragu di mana kata-kata mau berpaut
pada gelisah kah?
atau patah
di lembar-lembar buku terbuka
tak habis juga dibaca-baca
dan sampai situ, petualangan puisiku
tak mungkin jauh dibawa air mata, dideklamasi
pada tiap-tiap jiwa yang diharap mengubah apa
atau sekedar mereda duka,
tak bisa menghenti seribu lebih yang
terbaring abadi, yang cabik-cabik hati sementara
satu dentuman lagi bergelegar beberapa senti
anjing! jadi baiknya diam saja
dalam doa bisik-bisik lirih malam hari
tanpa koar yang memecah sunyi, tapi masih
kita nikmati sapa mentari dan sarapan pagi
sebab syukur adalah dosa
‘tika sadar gerimis api, tangis darah di sana
takkan sampai kemari
jadi mungkin baiknya diam saja
sebab kata-kata bukan benar senjata!
//januari, 2009
Diposting oleh Aufanuuha Ihsani di 08.26 0 komentar
intermezo buat sachree m. daroini
karena aku mencintai kata-kata
maka keindahan adalah surgaku
terkadang lupa
harus ada yang dicatat dari nama dan peristiwa
di lembar-lembar al-adzkar
kita selipkan beribu memori, juga kelakar
dan pada ranah-ranah cerita
kau memberi makna dari bahasa yang berbeda
: kisah cinta
gelisah rindu
serpihan-serpihan yang bertebar di batas cakrawala
//oktober 2008
Diposting oleh Aufanuuha Ihsani di 08.23 1 komentar
Sabtu, 21 Februari 2009
mrs.smith dan perpustakaan madrasah
Siang hari, 31 Januari 2009
Saya pergi ke perpustakaan Madrasah, menemani Mas B.U. yang ingin mencari beberapa referensi. Tapi sampai di sana saya lihat pintu perpustakaan tertutup. Saya tetap membuka pintu itu. Di dalamnya, di ruang kerja perpustakaan yang bersofa itu, seorang staff madrasah tiduran. Salah satu kakinya ditumpangkan ke kursi yang lebih tinggi. Merasa tidurnya terganggu, ia menghardik: “Perpustakaan udah tutup, besok aja datang kesini!”
“Sudah tutup, Pak?” tanya saya.
“Ya, sudah jam satu!” Padahal saya tahu jam satu tepat kurang lima belas menit lagi.
“Mmm, bukan begitu Pak,” jelas saya bernegosiasi. “Masalahnya….”
“Ah, ga’ ada masalah-masalahan! Kalau mau besok aja kesini!” ia memotong kata-kata saya. Dan siapa yang tak naik pitam ketika tiba-tiba kata-katanya dipotong? Saya pun menutup pintu itu dari luar.
Sambil setengah membentak, saya melantangkan suara: “Masalahnya siswa-siswi hanya sedikit mendapatkan waktu ke perpus! Dan Madrasah ga’ mau peduli!”
Saya pulang dengan perasaan ingin meninju seseorang.
Nampaknya, kita perlu istighfar yang banyak, biar lebih sabar kalau ada masalah. Tapi sebelum meninju seseorang, kita mesti menanak kesabaran itu hingga matang jadi amarah. Seseorang pernah berkata, Aristoteles namanya, bahwa “marah itu gampang, siapa saja bisa marah. Tapi kalau marah dengan kadar yang tepat, situasi yang tepat, dan pada orang yang tepat, itulah yang susah”. Barangkali saya memang tak sebijak Aristoteles, namun setidaknya beberapa alasan telah menguatkan saya untuk marah.
Diposting oleh Aufanuuha Ihsani di 07.36 1 komentar
jika
jika kaucium bau hujan
yakinlah bahwa
kemarau tak selamanya lara
sebab di muram mendung dan gerimis itu
genderang rindu ditabuh bertalu-talu
jika kaucium bau hujan
maka pada hari ketiga belas
aku akan datang
akan kukecup tiap jengkal tubuhmu
lewat birahi yang mendam di musim lalu
//krapyak, februari 09
Diposting oleh Aufanuuha Ihsani di 05.49 1 komentar
bahasa
dari abjad yang tak tersusun
bisakah kau rangkai bahasa?
sementara bening matamu
begitu jujur menangkap makna
maka kaunistakan puisi, sajak-sajakku
hanya sampah kosakata
kita hanya akan bicara mesra
tentang bbm yang turun harga
sebab dari bahasa kehidupan
kaucipta makna puisi paling dalam
sebab barangkali, mencintai
adalah mengerti bahasa matamu
yang melulu sembunyi
di balik senyum dan tawa itu
//krapyak, februari 09
Diposting oleh Aufanuuha Ihsani di 05.45 0 komentar
Minggu, 01 Februari 2009
yang benar dan yang salah
Di kelas American Government, kami mendapatkan tugas diskusi kelompok. Bersama Matt, Nick, dan Torie, saya membahas subtema yang berjudul “Apa yang membuat sebagian pemeluk Islam menjadi teroris?”. Dalam diskusi yang singkat itu, sebagai satu-satunya Muslim, saya mencoba memberi sedikit pandangan dari kaca mata Islam, bahwa apa yang disebut jihad adalah sebuah perlawanan yang bersifat defensif. Dan “teroris” adalah orang-orang yang hanya mengambil sisi-sisi kekerasan berkedok agama. Tapi tentu saja saya bersikap moderat di sana, dalam artian tidak terlalu mentah mengungkapkan argumen radikal dengan dalil-dalil yang tidak saya ketahui secara pasti.
Selepas diskusi itu saya menemui sang guru, Mrs. Balle. Kepadanya saya tanyakan mengapa Amerika membantu Israel atas apa yang dilakukan negara tersebut atas Palestina (karena tentunya konflik ini terjadi sudah sejak lama, 1948). Beliau hanya menjawab: “Karena Israel ingin mendirikan demokrasi di sana.”
“Demokrasi macam apa,” kata saya, “yang membunuh semua orang termasuk rakyat sipil?”
Dan beliau tidak menjawab.
Kala itu saya jadi ragu atas makna demokrasi. Apakah itu semacam sistem pemerintahan yang menempatkan rakyat pada puncak tertinggi kekuasaan? Jika begitu, maka artinya adalah kebebasan berpikir dan bertindak. Tapi kita juga tak bisa memungkiri, di Perancis, demokrasi dimulai dari jebolnya sebuah penjara dan pemancungan seorang raja. Maka itu demokrasi adalah sebentuk pengerahan massa dalam jumlah yang mengerikan, yang mengatasnamakan kebebasan.
Tapi baiklah, diskusi itu terjadi pada musim dingin tahun 2007 silam. Di akhir Desember tahun lalu, Israel melakukan agresinya lagi atas Palestina. Di situ kita tahu bahwa konflik yang dibangun sejak dulu terus saja berkelanjutan, sementara kita masih bertanya-tanya tentang demokrasi dan kebebasan.
Saya pikir bukan dua hal itu yang memicu konflik dua bangsa (saya sebut bangsa karena sampai sekarang, dunia tidak mengakui adanya “negara Palestina”) tersebut. Barangkali sebuah identitas, atau agama, yang mendorong peluru dan roket berhamburan. Sebab kita tahu bahwa agama, selain sebuah identitas, adalah juga alasan bagi seseorang untuk tetap hidup, terlebih lagi, untuk mati.
Dan pasti, sesuatu yang sangat fundamental dalam hidup kita, dapat mempengaruhi pandangan dalam menyikapi kenyataan. Saya berbicara tentang iman, yang kemudian kita kerucutkan lagi sebagai agama. Sebagai seorang muslim, tentu saja (dan pasti) ada perasaan sedih dan marah atas agresi Israel. Namun bagaimana dengan orang lain yang tidak seiman dengan saya? Itulah, maka kita tentu punya dua hal yang lebih besar: kemanusiaan dan moralitas.
Sebab adakah kemanusiaan dan moralitas di jalur Gaza?
Di televisi saya melihat seorang lelaki mengambil sebentuk boneka beruang yang berdebu dari reruntuhan rumahnya. Kemudian ia mencoba tegar bercerita pada reporter: “Saya lihat moncong tank itu mengarah ke pintu rumah kami. Kami berempat, saya, Ibu, dan dua anak saya, segera melambaikan bendera putih. Tank itu berhenti, seorang tentara kemudian keluar dari dalamnya dengan membawa senapan mesin. Ia memberondong Ibu dan kedua anak saya....”.
Ia mencoba tegar tanpa tangis. Tapi dari matanya yang asing dan pilu kita mencoba menangkap sesuatu di sana, bahwa perang ini bukan sekedar antara Hamas dengan Israel, namun juga rakyat sipil. Artinya: genosida. Artinya, seorang imam, karyawan toko sepatu, seorang tukang pangkas rambut, mungkin balita, harus dibunuh, karena mereka orang Palestina.
Dan siapakah kita, anak-anak belasan tahun berseragam putih abu-abu yang tiba-tiba menonton berita itu, kemudian mendesah miris, trenyuh: “Ah, kasihan!” atau “Sadis!” atau “Ya Tuhan....”? Lalu kita mengadakan penggalangan dana, mengirimkan bantuan pangan dan obat-obatan, di pesantren-pesantren diadakan mujahadah akbar, dan di tiap sholat di masjid atau surau kita mendengar imam membacakan qunut nazilah. Terlepas dari soal truk-truk suplai yang dihadang masuk ke jalur Gaza, toh hal-hal itu tetap menunjukkan kepedulian kita. Sebab meminjam sebaris sajak Rendra, perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Tapi benarkah itu akan merubah situasi, membebaskan apa yang kita yakini benar kemudian menghukum yang salah? Sementara kita tahu, PBB tak punya taring lagi.
Kini perang mereda: Israel memproklamirkan gencatan senjata secara sepihak dan Hamas menuntut mereka keluar dari Gaza. Namun siapa yang berani menjamin bahwa konflik tak akan berlanjut lagi? Saya tak tahu jawabnya. Tapi mungkin jika seribu bom berjatuhan di negeri 220 juta jiwa ini, barulah kita akan benar-benar “peduli”.
Diposting oleh Aufanuuha Ihsani di 07.34 2 komentar
Minggu, 23 November 2008
di batas keterasingan
: e. m.
Frankfurt, dua puluh jam yang lalu
telah kaulukiskan sosok ayah
yang kutahu, darinya kaucoba melepas belenggu.
Namun aku hanya ingin menyelam di matamu,
di perasaan, di balik senyum dan tawa itu.
Dan jumpa kita yang paling jingga
adalah seribu tahun
yang dihitung dengan sunyi abad-abad.
Maka mulai kususun bangunan duka
di antara cerita kita.
Kau bilang kau akan baca puisi-puisiku
Mengapa tak jadi juga?
Esok tak akan menjanji kita buat bersama
Namun sesingkat apa pun, biru samudera
akan menasbihkan debur ombak jadi kenangan.
Sesingkat apa pun, interval musim hujan
akan mendendam rindu yang angkuh
di batas keterasingan.
//krapyak, nopember 2008
Diposting oleh Aufanuuha Ihsani di 08.05 2 komentar
sebelum perpisahan
:Olga Isakova
demi hamparan rumput yang tersiangi mentari musim semi, bunga-bunga dandelion, juga kekicauan merdu, kita tak pernah peduli akan hari esok di mana aku dan kau akan terpisah ratusan ribu mil. sebab telah kau ceritakan berpenggal kisah tentang persahabatan yang cuma mimpi indah. tidakkah kau ingin terbangun dan menatap kenyataan: gugur dedaun tahun lalu, selara yang mewarna terang perlahan jatuh sebelum angin menyapu tanah. betapa semua itu akan berlalu dan lekang jadi kenangan. tidak. tidak. aku ingin menyulam mimpi baru dan entah kapan kita kembali bisa bertemu.
aku pernah berloncatan di atas trampolin. ketika salju melayang-layang tanpa suara, hanya dingin, beku serupa catatan-catatan sejarah. tapi sedingin itukah rona rasamu? kadang kenangan akan membara meski sejatinya gigil, sebab tak pernah kau luapkan apa yang tenggelam di palung hatimu.
itulah sebabnya menaruh hati padamu adalah membaca kiasan pada bintang-bintang di langit kelabu. aku ingin runduk di segala doa, sibuk di tiap istirah, menggelora pada kelana hingga kubiarkan memori tertinggal bersama debu di bangku-bangku ruang tunggu.
itulah sebabnya aku tak ingin mencintai, sebab esok tiada kisah yang kauceritakan lagi.
//Krapyak, Oktober 2008
Diposting oleh Aufanuuha Ihsani di 08.03 0 komentar
Kamis, 28 Agustus 2008
sajak buat temanku yang tak jadi baca sajak
(i)
kita mestinya baca sajak malam itu
bersama-sama
dengan gelegar yang kuharap meruntuhkan nyali
dengan semangat bervoltase tinggi
tapi kau pergi
pergi, karena penonton bubar duluan
pergi sebab kaupikir sudah larut malam
(padahal malam takkan berakhir sebelum kokok jago bersahutan dan penonton bukan cuma manusia yang bertepuk dan ber-huuuu ria. tentu kau tahu alam lebih jujur, jangkerik dan gemerisik dedaun, mungkin angin malam, akan diam.
mengikutimu dari batas-batas suara)
kesal aku sekesalnya padamu
bak api yang telah kau siapkan kayu bakarnya
lalu kau padamkan sebelum jadi bara
atau barangkali kau ragu akan makna
pada keindahan kata yang kau terjebak di dalamnya
itu sebabnya tak pernah kau tunjukkan karya-karya
padaku
(ii)
kita mestinya baca sajak malam itu
kau tahu,
di setiap debar-debar tunggu kita hanyalah pemenang
yang akan dipanggil namanya ke pentas
sementara orang-orang maju tanpa peduli
kau dan aku, kita menanti
maka kuperkosa kertas dengan amuk ini puisi!
//krapyak, agustus 2008
Diposting oleh Aufanuuha Ihsani di 21.14 0 komentar
titik
: buat jarot waskito
mengapa kau benci kalimat yang tak usai?
sedangkan luap rindu mungkin saja
menghabiskan kata-kata
atau mungkin kau ingin mempertegas segala, dari amsal
kapal-kapal kertas yang terombang-ambing
arus sungai
kau ingin menancapkan tombak
di tengah lapang tanah
lalu bilang sekerasnya, “hei angin!
hei setan!
hei tuhan!”
ah, mestinya kau lebih sering sembahyang
biar tambah seru perdebatan kita
tapi kau lupa, rot
selalu ada makna dari sebab dan peristiwa
tangis bukanlah senang dan sedih saja
pun orang-orang menuliskan pujian pada obituari
kita, melantangkan suara tentang apa yang tak dimengerti
aku mencintai sajak-sajak hanya sekedarnya
dan ini rahasia, rot
: tak ada yang lebih tahu ketimbang pemegang pena
// krapyak, agustus 2008
Diposting oleh Aufanuuha Ihsani di 21.12 1 komentar
Sabtu, 28 Juni 2008
tentang surat dari Idham
Idham wrote [06/27/2008 11:15 pm]:
Kepulanganmu, sudah tinggal menghitung hari. Readaptasi sudah harus kau persiapkan. Ingat bahwa readaptasi akan lebih susah dibanding adaptasi. Karena pada readaptasi, orang telah melihat dan tahu siapa kamu sebelumnya. Sehingga kadang-kadang orang menuntut Aufa yang sama seperti dulu ia kenal.
Namun saya yakin bahwa Aufa bisa mengatasinya dengan baik. Baiklah, sampai jumpa nanti di pondok.
Can't wait to have your hands on taking care of your friends.
Can't wait to have your contribution on your ALMA.
Be enlightening revolutionary for ALMA, ISLAM n INDONESIA!
Aufannuha wrote [06/28/2008 08:22 am]:
Segalanya berubah, Dham. Kalau orang-orang menuntut aku jadi "aku" yang dulu, mungkin keadaannya akan lebih buruk dari sekarang. Masalahnya, dulu, kalau benar-benar diperhatikan, aku bukan termasuk siswa yg rajin, selalu terlambat, ga' pernah ngerjain pr, ga' pernah nyuci baju, utangan, klowor, suka mbentak guru, ngrokokan, amburadul, berontak sama aturan.....
Dan, kalau aku tetap jadi "aku" yang dulu, mungkin orang-orang akan berpikir: "Piye tho? Seko Amerika malah kelakuane isih koyo mbiyen....".
Di satu sisi, I like the way I was (and I know I want to be that way), but if it has to be done, there's burden that I have: my AFS, the understanding of the people about what I've done. It's not that simple for me.
Jalan pikiranku juga berubah. Dulu, aku berada di antara konservatif dan moderat. Sekarang, aku beralih di antara moderat dan liberal. Dham, semuanya berubah. Tapi aku masih mau jadi "aku" yang dulu.
Sometimes I don't give a crap what people think about me, Dham. I am what I wanna be, not because of him, or her, or anybody. Cowards do that and they're not me. I'm better than them!
Dham, aku kangen kamu....
Diposting oleh Aufanuuha Ihsani di 22.13 1 komentar
Selasa, 24 Juni 2008
aku kangen
Aku kangen teman-teman, Silah sama Ipul, masih ingat dulu kita sering banget ngerokok bareng di lantai lima asrama.
Aku kangen Pak Nur, Pak Mukhlisin, Idham, dan Pak Suryono yang dulu pernah ta' bentak-bentak di kelas.
Aku kangen mie jowo buatan Mbok Yem, es soda gembira di burjo tengah, gorengan di warung angkringnya Kang Agus, juga nasi kering tempe yang tiap pagi aku selalu utang.
Aku kangen Malioboro, Parang Tritis, Pojok Benteng Kulon, Kandang Menjangan, kuburan dekat lapangan krapyak yang biasanya dibuat pacaran sama santri-santri.
Aku kangen alma.com, rental dekat perempatan itu yang biasanya aku mangkal buat mbikin buletin "HEART", curhat masalah cewek sama Bang Arip, ngerjain Kobon, nggodain Syukron yang katanya mau mbikin buku, hadiah buat pacarnya tapi ga' jadi-jadi.
Aku kangen LKiS, buletin CORET di mana dulu sering nongkrong bareng anak-anak lain SMA buat diskusi masalah buku, cerpen dan puisi. Kangen Mas Najib Kailani yang selalu menyapa dengan pertanyaan bodohnya: “Gimana Fa? Suci apa Silvy?”
Aku kangen bacaan-bacaanku: Catatan Pinggir 1, 2, 3, 4, 5, 6, cerpen-cerpennya Seno Gumira Adjidarma, puisi-puisinya Iyut Fitra, Sutardji Calzoum Bachri, Al-Adzkar, Tafsir Jalalain, Bulughul Marom.
Tapi aku kok ga’ kangen Bapak-Ibu ya?
*(tulisan ini dibikin Juni 2008, Ohio, Amerika Serikat)
Diposting oleh Aufanuuha Ihsani di 22.14 2 komentar
for Mrs. Wrobleski
Teaching is not only a job. But more than that, teaching is also called a process of knowing, understanding, and relationship between teacher and student. So when you are actually graduated, you cannot say: “He/she was my teacher”. You suppose to say: “He/she is my teacher”. Because no matter what happens, the Teacher has educated you for being a better person. And what honors we give to him/her after graduation? None of them! So, once a teacher is always be a teacher.
In Indonesia, we respect teacher so much. After class, we kiss the teacher’s hand (but of course boys cannot kiss woman teacher’s hand). At the holiday (Idul Fitr), we visit them in their home, give them greetings, and pray that they will always be okay, and so on.
I want to thank you to Mrs. Wrobleski. At the first time I came here and got the appendix, she sent a big green paper says: You’re “A”-mazing. The other friend in her government class wrote whishes so I could get back to school. Indeed, it was so touchy.
But unfortunately, I had to switch my Government class to other class because of little bit problem. So right now, I am not in her Government class anymore.
She is still my teacher, and always be my teacher. She even asked me to do a presentation about my country in her History class for freshman students in the middle of February. With this presentation, I hope that I can explain a lot of things because she said that most of students in U.S. don’t know anything about another country.
Thank you Mrs. Wrobleski….
Diposting oleh Aufanuuha Ihsani di 22.13 0 komentar
kepada angkatanku
:anakanaksenja
serupa katakata
seorang saja,
takkan mampu membasuh luka masa
di antara bulir padi dan esok hari
hasratmu (yang katanya) mencari jati diri
mengapa, o, demi rerimbun mawar dan kuncup melati
merah darah dan putih yang suci
tiba kau pergi lama kembali?
“aku juga rindu sesimpang jalan di kotaku
tapi ada soalnya,
barangkali kepergian hanyalah awal mula”
dan tiadakah musim semi
akhir yang dekat
gugur dedaun, rerintik salju
cermin yang juga terpasang di dinding hatimu
bayang-bayang sepintas dan berlalu
: seperti catatancatatan
seperti baik dan buruk kenangan
seperti yang tak mati dalam memori
-lalu kau putar lagi, perlahan-
maka kita pun mendekap harap
mengais asa, juga alasan
di mana senyum dan tawa, senja sembilan kita
sebentar lagi berlabuh di keharuan
menuntaskan lapuk jarak dan rindu akanmu
namun perjalanan berakhir….
dan tak pernah sia-sia
sebab di penghujung musim semi
sesuatu berlalu dan memula
16 Maret 2008
Diposting oleh Aufanuuha Ihsani di 21.26 0 komentar
Kamis, 28 Februari 2008
hujan
Ini puisi yang kubikin waktu masih duduk di kelas 2 MTs. Meski cuma sederhana saja, dengan pilihan diksi dan makna yang masih amburadul, tapi waktu itu aku cukup bangga, soalnya dimuat di mading asrama dan dibaca seluruh santri:
gerimismu datang lebih dulu
derasmu mengeluncak di malamku
menyapa anginmu dalam diri
kau di sini sesaat saja memberi
dan dalam dadaku tergnang olehmu
aku dingin membeku
tunggu mungkin waktu 'kan berubah
tlah terjaga darimu dalam rumah
....................(lupa barisnya)................
....................(lupa barisnya)................
pandangi kau di luar sana
menunggu reda yang mesti tiba
Diposting oleh Aufanuuha Ihsani di 20.33 0 komentar
kang santri bicara jihad
Wah, Kang Santri tak pernah merasa sekalut dan sebimbang sekarang ini. Beberapa minggu terakhir ini kelas American Government belajar tentang teroris. Yah, tentunya dengan prespektif Amerika sendiri. Diskusi-diskusi yang Kang Santri dan teman-temannya lakukan berdasar pada artikel-artikel koran lokal pasca kejadian 9/11. Kebetulan kelompok Kang Santri dapat bagian "Apa yang mengubah beberapa pemeluk agama Islam menjadi teroris?".
Sedikit banyak, memang, Kang Santri mampu mengikuti diskusi itu dengan baik. Terlebih lagi dengan prespektifnya sebagai seorang muslim, tentu ia bisa memberi pengertian bagi mereka lewat sudut pandang Islam sendiri. Kang Santri beranggapan bahwa terjadi kesalahpahaman bagi sebagian orang dalam memaknai "jihad" yang terkandung dalam Al-Qur’an.
Tapi, dasar sok kritis, atau Kang Santri ini memang ingin tahu lebih banyak tentang masalah ini (tentu lewat sudut pandang Amerika), ia mendatangi Mrs. Balle, sang Guru, dan mengajaknya "janjian" sepulang sekolah untuk ngobrol ringan saja. Jadilah mereka bertemu di ruang kelas. Pertama-tama, Kang Santri tanya kenapa Amerika ga’ mau ada negara lain yang lagi yang punya nuklir? Mrs. Balle menjawab, karena semakin banyak negara yang punya nuklir, mereka makin susah terkontrol. Kang Santri berpikir, berarti kalau negara-negara lain ga’ punya nuklir, suatu saat pasti negara-negara yang punya nuklir bakal "mengontrol" negara-negara tanpa nuklir. Tapi, Kang Santri tak mengucapkan kata-kata itu, sebab sadar memang itu cara yang paling baik untuk menjaga perdamaian saat ini.
Kemudian Kang Santri menjelaskan kenapa kok ada saja orang-orang yang disebut teroris itu. "Bu, andaikata Qur’an itu semangkuk sup," kata Kang Santri, "orang-orang yang melakukan aksi terorisme itu hanya makan cabenya saja. Lagipula, tak selamanya teroris adalah "teroris". Contohnya, orang-orang yang melakukan aksi kekerasan di Palestina sana sebenarnya tak layak disebut teroris. Mereka berperang demi lahan mereka, sebuah sikap defensif, di mana sesuatu yang disebut jihad berlangsung."
"Tapi justru itulah masalahnya, Kang," Mrs. Balle memberi komentar. "Jaringan terorisme di Afghanistan yang menyaksikan itu semua menyerang WTC, dengan maksud menghentikan support Amerika atas Israel."
"Kenapa Amerika menyuport Israel?" tanya Kang Santri.
"Karena Israel ingin mendirikan demokrasi di sana," jawab Mrs. Bale.
"Demokrasi? Demokrasi macam apa yang mengizinkan tentara membunuh anak kecil?" sahut Kang Santri. Ia mengucapkan kata-kata itu pelan saja. Namun maksudnya jelas: ia tak sependapat dengan Mrs. Balle.
"Well, di Amerika ini, Kang, banyak orang-orang Yahudi, beberapa dari mereka mempunyai kekuasaan untuk mendesak pemerintah agar menuruti apa yang mereka mau," kata Mrs. Balle.
"Hmm, Yahudi lagi," pikir Kang Santri. Ia jadi ingat Jacobo Timmerman, seorang jurnalis keturunan Yahudi yang pasca kejadian holocaust itu berbicara kepada publik tentang ketidak-adilan yang dialami kaumnya. Ia berbicara, dengan banyak pro dan kontra yang mewarnai tiap langkah karirnya. Apalagi koran yang dipimpinnya, La Opinion, berhaluan kiri. Ia kemudian ditahan oleh militer, disiksa dengan bertubi pukulan dan setruman listrik.
Tapi kemudian ia bebas, dan memperoleh penghargaan pada tahun 1980 atas keberaniannya dalam mengemukakan pendapat. Kang Santri tak tahu apa yang akan Timmerman pikirkan sekarang, jika ia melihat masalah yang lebih kompleks dari sebelumnya.
Awalnya, mungkin banyak orang bertanya-tanya kenapa aksi-aksi terorisme dan sebagainya itu harus terjadi? Kenapa tiap orang tidak berusaha untuk menghargai daerah teritorial atau kebudayaan bangsa lain? Sebenarnya, ketegangan yang terjadi antara Palestina dan Israel, atau Amerika dan "Terorisme" ini sudah berlangsung sejak lama. Namun pemicu konflik itu baru terjadi beberapa tahun ini, yang mengakibatkan kedua belah pihak saling balas menyerang. Seperti kasus di Ambon, yang dalam versi fiksi Ratih Kumala dalam novelnya yang berjudul “Genesis”, kaum Acang baru menyerang Obet ketika mereka menemukan puluhan tempe berbungkus lembaran Qur’an.
Sebelum Kang Santri bertemu Mrs. Balle di sekolah, ia bertemu Nick. Nick adalah cucu dari keluarga angkat tempat Kang Santri tinggal sekarang ini. Pertama kali bertemu Nick, Kang Santri langsung disudutkan dengan pertanyaan-pertanyaan "kenapa kalau dijilat anjing itu harus dibilas tujuh kali?" atau "kenapa ada bom bunuh diri?". Mulanya Kang Santri gugup, dan sedikit senewen dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi, ketika Kang Santri berusaha menjawab pertanyaan itu satu persatu dengan bahasa yang sopan, Nick mulai mengerti dan memaklumi. Belakangan mereka berdua janji main lempar-tangkap football.
Dan begitulah, dalam lingkar sosial yang kecil, pemahaman akan sesuatu yang lain, agama misalnya, dapat diberikan tergantung bagaimana kita menyampaikannya. Agama itu sesuatu yang baik, dan kekerasan adalah sesuatu yang buruk. Sebenarnya pula, kalau boleh dikata, tak ada Muslim yang lebih baik dari seorang Kristen, juga tak ada seorang Kristen yang lebih baik dari seorang Muslim. Orang-orang yang lebih baik adalah orang-orang yang melakukan hal-hal baik untuk diri mereka sendiri dan orang lain.
Pernah lihat film "Robin Hood: Prince of Thieves"? Suatu kali, seorang gadis kecil menghampiri Azeem, teman Robin Hood yang berasal dari Afrika.
"Apa Tuhan mengecat tubuhmu?" kata gadis kecil itu.
"Ya, teman kecilku."
"Mengapa Dia melakukannya?"
"Karena Tuhan menyukai perbedaan."
Si Gadis kecil itu pun berlalu.
//Ohio, 2007
Diposting oleh Aufanuuha Ihsani di 20.24 0 komentar
ibu
Tuhan,
aku tak hapal doadoa
Tapi tolong berikan
setangkup saja rahmatMu untuknya
Semoga airmata dari sepucuk rindu
menghanyutkan sajak ini padaMu
Amin....
//Ohio, September 2007
Diposting oleh Aufanuuha Ihsani di 20.17 0 komentar
guguran rindu
aku ingin mencatat tiap waktu berlalu
bersama angin, nafas malam ini
sementara daunan di gugur musim
berbisik tentang luka, perih
yang menakik merah katakata
apalagi yang tersisa,
hanya serindu namun sajaksajak
minta ditulis segera. padahal tahu
di luar sana seribu tanya ingin lekas terbalas
laksaan tekateki menuntut arti
menertawakan kangenmu juga dzikirdzikir sunyi
esok, kini
kering air mata
bisu merakit makna
beri aku bahasa untuk berkata!
Nov, 07
Diposting oleh Aufanuuha Ihsani di 20.12 0 komentar