Di kelas American Government, kami mendapatkan tugas diskusi kelompok. Bersama Matt, Nick, dan Torie, saya membahas subtema yang berjudul “Apa yang membuat sebagian pemeluk Islam menjadi teroris?”. Dalam diskusi yang singkat itu, sebagai satu-satunya Muslim, saya mencoba memberi sedikit pandangan dari kaca mata Islam, bahwa apa yang disebut jihad adalah sebuah perlawanan yang bersifat defensif. Dan “teroris” adalah orang-orang yang hanya mengambil sisi-sisi kekerasan berkedok agama. Tapi tentu saja saya bersikap moderat di sana, dalam artian tidak terlalu mentah mengungkapkan argumen radikal dengan dalil-dalil yang tidak saya ketahui secara pasti.
Selepas diskusi itu saya menemui sang guru, Mrs. Balle. Kepadanya saya tanyakan mengapa Amerika membantu Israel atas apa yang dilakukan negara tersebut atas Palestina (karena tentunya konflik ini terjadi sudah sejak lama, 1948). Beliau hanya menjawab: “Karena Israel ingin mendirikan demokrasi di sana.”
“Demokrasi macam apa,” kata saya, “yang membunuh semua orang termasuk rakyat sipil?”
Dan beliau tidak menjawab.
Kala itu saya jadi ragu atas makna demokrasi. Apakah itu semacam sistem pemerintahan yang menempatkan rakyat pada puncak tertinggi kekuasaan? Jika begitu, maka artinya adalah kebebasan berpikir dan bertindak. Tapi kita juga tak bisa memungkiri, di Perancis, demokrasi dimulai dari jebolnya sebuah penjara dan pemancungan seorang raja. Maka itu demokrasi adalah sebentuk pengerahan massa dalam jumlah yang mengerikan, yang mengatasnamakan kebebasan.
Tapi baiklah, diskusi itu terjadi pada musim dingin tahun 2007 silam. Di akhir Desember tahun lalu, Israel melakukan agresinya lagi atas Palestina. Di situ kita tahu bahwa konflik yang dibangun sejak dulu terus saja berkelanjutan, sementara kita masih bertanya-tanya tentang demokrasi dan kebebasan.
Saya pikir bukan dua hal itu yang memicu konflik dua bangsa (saya sebut bangsa karena sampai sekarang, dunia tidak mengakui adanya “negara Palestina”) tersebut. Barangkali sebuah identitas, atau agama, yang mendorong peluru dan roket berhamburan. Sebab kita tahu bahwa agama, selain sebuah identitas, adalah juga alasan bagi seseorang untuk tetap hidup, terlebih lagi, untuk mati.
Dan pasti, sesuatu yang sangat fundamental dalam hidup kita, dapat mempengaruhi pandangan dalam menyikapi kenyataan. Saya berbicara tentang iman, yang kemudian kita kerucutkan lagi sebagai agama. Sebagai seorang muslim, tentu saja (dan pasti) ada perasaan sedih dan marah atas agresi Israel. Namun bagaimana dengan orang lain yang tidak seiman dengan saya? Itulah, maka kita tentu punya dua hal yang lebih besar: kemanusiaan dan moralitas.
Sebab adakah kemanusiaan dan moralitas di jalur Gaza?
Di televisi saya melihat seorang lelaki mengambil sebentuk boneka beruang yang berdebu dari reruntuhan rumahnya. Kemudian ia mencoba tegar bercerita pada reporter: “Saya lihat moncong tank itu mengarah ke pintu rumah kami. Kami berempat, saya, Ibu, dan dua anak saya, segera melambaikan bendera putih. Tank itu berhenti, seorang tentara kemudian keluar dari dalamnya dengan membawa senapan mesin. Ia memberondong Ibu dan kedua anak saya....”.
Ia mencoba tegar tanpa tangis. Tapi dari matanya yang asing dan pilu kita mencoba menangkap sesuatu di sana, bahwa perang ini bukan sekedar antara Hamas dengan Israel, namun juga rakyat sipil. Artinya: genosida. Artinya, seorang imam, karyawan toko sepatu, seorang tukang pangkas rambut, mungkin balita, harus dibunuh, karena mereka orang Palestina.
Dan siapakah kita, anak-anak belasan tahun berseragam putih abu-abu yang tiba-tiba menonton berita itu, kemudian mendesah miris, trenyuh: “Ah, kasihan!” atau “Sadis!” atau “Ya Tuhan....”? Lalu kita mengadakan penggalangan dana, mengirimkan bantuan pangan dan obat-obatan, di pesantren-pesantren diadakan mujahadah akbar, dan di tiap sholat di masjid atau surau kita mendengar imam membacakan qunut nazilah. Terlepas dari soal truk-truk suplai yang dihadang masuk ke jalur Gaza, toh hal-hal itu tetap menunjukkan kepedulian kita. Sebab meminjam sebaris sajak Rendra, perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Tapi benarkah itu akan merubah situasi, membebaskan apa yang kita yakini benar kemudian menghukum yang salah? Sementara kita tahu, PBB tak punya taring lagi.
Kini perang mereda: Israel memproklamirkan gencatan senjata secara sepihak dan Hamas menuntut mereka keluar dari Gaza. Namun siapa yang berani menjamin bahwa konflik tak akan berlanjut lagi? Saya tak tahu jawabnya. Tapi mungkin jika seribu bom berjatuhan di negeri 220 juta jiwa ini, barulah kita akan benar-benar “peduli”.
Minggu, 01 Februari 2009
yang benar dan yang salah
Diposting oleh Aufanuuha Ihsani di 07.34 2 komentar
Minggu, 23 November 2008
di batas keterasingan
: e. m.
Frankfurt, dua puluh jam yang lalu
telah kaulukiskan sosok ayah
yang kutahu, darinya kaucoba melepas belenggu.
Namun aku hanya ingin menyelam di matamu,
di perasaan, di balik senyum dan tawa itu.
Dan jumpa kita yang paling jingga
adalah seribu tahun
yang dihitung dengan sunyi abad-abad.
Maka mulai kususun bangunan duka
di antara cerita kita.
Kau bilang kau akan baca puisi-puisiku
Mengapa tak jadi juga?
Esok tak akan menjanji kita buat bersama
Namun sesingkat apa pun, biru samudera
akan menasbihkan debur ombak jadi kenangan.
Sesingkat apa pun, interval musim hujan
akan mendendam rindu yang angkuh
di batas keterasingan.
//krapyak, nopember 2008
Diposting oleh Aufanuuha Ihsani di 08.05 2 komentar
sebelum perpisahan
:Olga Isakova
demi hamparan rumput yang tersiangi mentari musim semi, bunga-bunga dandelion, juga kekicauan merdu, kita tak pernah peduli akan hari esok di mana aku dan kau akan terpisah ratusan ribu mil. sebab telah kau ceritakan berpenggal kisah tentang persahabatan yang cuma mimpi indah. tidakkah kau ingin terbangun dan menatap kenyataan: gugur dedaun tahun lalu, selara yang mewarna terang perlahan jatuh sebelum angin menyapu tanah. betapa semua itu akan berlalu dan lekang jadi kenangan. tidak. tidak. aku ingin menyulam mimpi baru dan entah kapan kita kembali bisa bertemu.
aku pernah berloncatan di atas trampolin. ketika salju melayang-layang tanpa suara, hanya dingin, beku serupa catatan-catatan sejarah. tapi sedingin itukah rona rasamu? kadang kenangan akan membara meski sejatinya gigil, sebab tak pernah kau luapkan apa yang tenggelam di palung hatimu.
itulah sebabnya menaruh hati padamu adalah membaca kiasan pada bintang-bintang di langit kelabu. aku ingin runduk di segala doa, sibuk di tiap istirah, menggelora pada kelana hingga kubiarkan memori tertinggal bersama debu di bangku-bangku ruang tunggu.
itulah sebabnya aku tak ingin mencintai, sebab esok tiada kisah yang kauceritakan lagi.
//Krapyak, Oktober 2008
Diposting oleh Aufanuuha Ihsani di 08.03 0 komentar
Kamis, 28 Agustus 2008
sajak buat temanku yang tak jadi baca sajak
(i)
kita mestinya baca sajak malam itu
bersama-sama
dengan gelegar yang kuharap meruntuhkan nyali
dengan semangat bervoltase tinggi
tapi kau pergi
pergi, karena penonton bubar duluan
pergi sebab kaupikir sudah larut malam
(padahal malam takkan berakhir sebelum kokok jago bersahutan dan penonton bukan cuma manusia yang bertepuk dan ber-huuuu ria. tentu kau tahu alam lebih jujur, jangkerik dan gemerisik dedaun, mungkin angin malam, akan diam.
mengikutimu dari batas-batas suara)
kesal aku sekesalnya padamu
bak api yang telah kau siapkan kayu bakarnya
lalu kau padamkan sebelum jadi bara
atau barangkali kau ragu akan makna
pada keindahan kata yang kau terjebak di dalamnya
itu sebabnya tak pernah kau tunjukkan karya-karya
padaku
(ii)
kita mestinya baca sajak malam itu
kau tahu,
di setiap debar-debar tunggu kita hanyalah pemenang
yang akan dipanggil namanya ke pentas
sementara orang-orang maju tanpa peduli
kau dan aku, kita menanti
maka kuperkosa kertas dengan amuk ini puisi!
//krapyak, agustus 2008
Diposting oleh Aufanuuha Ihsani di 21.14 0 komentar
titik
: buat jarot waskito
mengapa kau benci kalimat yang tak usai?
sedangkan luap rindu mungkin saja
menghabiskan kata-kata
atau mungkin kau ingin mempertegas segala, dari amsal
kapal-kapal kertas yang terombang-ambing
arus sungai
kau ingin menancapkan tombak
di tengah lapang tanah
lalu bilang sekerasnya, “hei angin!
hei setan!
hei tuhan!”
ah, mestinya kau lebih sering sembahyang
biar tambah seru perdebatan kita
tapi kau lupa, rot
selalu ada makna dari sebab dan peristiwa
tangis bukanlah senang dan sedih saja
pun orang-orang menuliskan pujian pada obituari
kita, melantangkan suara tentang apa yang tak dimengerti
aku mencintai sajak-sajak hanya sekedarnya
dan ini rahasia, rot
: tak ada yang lebih tahu ketimbang pemegang pena
// krapyak, agustus 2008
Diposting oleh Aufanuuha Ihsani di 21.12 1 komentar
Sabtu, 28 Juni 2008
tentang surat dari Idham
Idham wrote [06/27/2008 11:15 pm]:
Kepulanganmu, sudah tinggal menghitung hari. Readaptasi sudah harus kau persiapkan. Ingat bahwa readaptasi akan lebih susah dibanding adaptasi. Karena pada readaptasi, orang telah melihat dan tahu siapa kamu sebelumnya. Sehingga kadang-kadang orang menuntut Aufa yang sama seperti dulu ia kenal.
Namun saya yakin bahwa Aufa bisa mengatasinya dengan baik. Baiklah, sampai jumpa nanti di pondok.
Can't wait to have your hands on taking care of your friends.
Can't wait to have your contribution on your ALMA.
Be enlightening revolutionary for ALMA, ISLAM n INDONESIA!
Aufannuha wrote [06/28/2008 08:22 am]:
Segalanya berubah, Dham. Kalau orang-orang menuntut aku jadi "aku" yang dulu, mungkin keadaannya akan lebih buruk dari sekarang. Masalahnya, dulu, kalau benar-benar diperhatikan, aku bukan termasuk siswa yg rajin, selalu terlambat, ga' pernah ngerjain pr, ga' pernah nyuci baju, utangan, klowor, suka mbentak guru, ngrokokan, amburadul, berontak sama aturan.....
Dan, kalau aku tetap jadi "aku" yang dulu, mungkin orang-orang akan berpikir: "Piye tho? Seko Amerika malah kelakuane isih koyo mbiyen....".
Di satu sisi, I like the way I was (and I know I want to be that way), but if it has to be done, there's burden that I have: my AFS, the understanding of the people about what I've done. It's not that simple for me.
Jalan pikiranku juga berubah. Dulu, aku berada di antara konservatif dan moderat. Sekarang, aku beralih di antara moderat dan liberal. Dham, semuanya berubah. Tapi aku masih mau jadi "aku" yang dulu.
Sometimes I don't give a crap what people think about me, Dham. I am what I wanna be, not because of him, or her, or anybody. Cowards do that and they're not me. I'm better than them!
Dham, aku kangen kamu....
Diposting oleh Aufanuuha Ihsani di 22.13 1 komentar
Selasa, 24 Juni 2008
aku kangen
Aku kangen teman-teman, Silah sama Ipul, masih ingat dulu kita sering banget ngerokok bareng di lantai lima asrama.
Aku kangen Pak Nur, Pak Mukhlisin, Idham, dan Pak Suryono yang dulu pernah ta' bentak-bentak di kelas.
Aku kangen mie jowo buatan Mbok Yem, es soda gembira di burjo tengah, gorengan di warung angkringnya Kang Agus, juga nasi kering tempe yang tiap pagi aku selalu utang.
Aku kangen Malioboro, Parang Tritis, Pojok Benteng Kulon, Kandang Menjangan, kuburan dekat lapangan krapyak yang biasanya dibuat pacaran sama santri-santri.
Aku kangen alma.com, rental dekat perempatan itu yang biasanya aku mangkal buat mbikin buletin "HEART", curhat masalah cewek sama Bang Arip, ngerjain Kobon, nggodain Syukron yang katanya mau mbikin buku, hadiah buat pacarnya tapi ga' jadi-jadi.
Aku kangen LKiS, buletin CORET di mana dulu sering nongkrong bareng anak-anak lain SMA buat diskusi masalah buku, cerpen dan puisi. Kangen Mas Najib Kailani yang selalu menyapa dengan pertanyaan bodohnya: “Gimana Fa? Suci apa Silvy?”
Aku kangen bacaan-bacaanku: Catatan Pinggir 1, 2, 3, 4, 5, 6, cerpen-cerpennya Seno Gumira Adjidarma, puisi-puisinya Iyut Fitra, Sutardji Calzoum Bachri, Al-Adzkar, Tafsir Jalalain, Bulughul Marom.
Tapi aku kok ga’ kangen Bapak-Ibu ya?
*(tulisan ini dibikin Juni 2008, Ohio, Amerika Serikat)
Diposting oleh Aufanuuha Ihsani di 22.14 2 komentar